Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang berkembang di eropa pada abad 18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang budaya ini merefleksikan adanya ketidak seimbangan antara kekuatan eropa dengan daerah yang dijajah. Berdasarkan sebuah cara pikir klasik, kebudayaan satu dengan kebudayaan yang lain dapat diperbandingkan, dalam artian salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari budaya lain. Jika kerajinan tembaga telah dikenal sejak dulu, maka di sini pengrajin hanya menempati strata sosial ke-2 setelah penjajah. Kareba kaum aristokrat dianggap sebagai pemilik budaya itu sendiri padahal mereka hanya konsumen.
Pada kenyataannya kebudayaan hanya merujuk pada benda-benda dan aktifitas yang bersifat elit seperti misalnya memakai furnitur dari hasil kerajinan emas, perak atau pun tembaga. Kkata kebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktifitas-aktifitas di atas.
Diskriminasi budaya membuat budaya lain ttersisih dan dampak terburuknya budaya atau peradaban yang tersisih itu lama kelamaan akan hilang. Begitu juga dengan kerajinan tembaga yang menjadi peradaban sekaligus budaya masyarakat. Sifat multi fungsi yang dimiliki kerajinan tembaga membuat sebagiaan orang mempubyai ketergantungan. Ketergantungan yang dimaksud adalah kepemilikan suatu benda menjadikan mereka merasa puas dan juga bangga. Namun terkikisnya jumlah pengrajin seiring modernisasi, mematikan semangat berkreasi dari pengrajin. Produksi masal membatasi inovasi yang akan dituangkan oleh pengrajin kerajinan tembaga.
Untuk mencegah hilangnya suatu kebudayaan butuh partisipasi dari banyak pihak. Oihak yang paling bertangung jawab di sini adalah pemerintah, yang kedua pengrajin dan yang terakhir adalah masyarakat umum. Pemerintah berperan sebagai sosialisator, menghimbau pada masyarakat akan pentingnya suatu budaya. Pengrajin berkewajiban menjaga stabilisasi karya dan originalitas kerajinan tembaga. Sedang untuk masyarakat luas memegang pengaruh paling penting dari segi konsumerisasi, dan menanamkan kebanggaan atas produk lokal.

BOLEH BACA :  Perusahaan Kerajinan Kuningan di Boyolali Mau Menerima Projek & Pemasangan dari Kota Probolinggo